Sepeda Butut dan Impian Terbang Riko
"Lihat sepedaku, Riko! Cepat sekali!" seru Doni sambil melaju kencang. "Sepedamu itu sudah tua, Riko! Nanti bisa jatuh," timpal Toni sambil tertawa.
Riko hanya tersenyum. Ia tidak marah atau sedih. Ia tahu, meskipun sepedanya butut, itu adalah teman setianya setiap hari. Setiap sore, Riko mengantar kue-kue buatan Ibu ke warung-warung di desa menggunakan sepeda birunya.
Riko punya impian besar. Ia ingin sekali bisa membuat layang-layang yang paling indah dan bisa terbang paling tinggi di langit. Layang-layang yang ia buat sekarang masih kecil dan sering jatuh. Doni dan Toni sering mengejeknya.
"Layang-layangmu seperti kain lap, Riko!" ledek Doni. "Tidak akan pernah terbang tinggi!" kata Toni.
Setiap malam, setelah selesai mengantar kue dan membantu Ibu, Riko tidak langsung tidur. Ia membuka buku-buku tentang cara membuat layang-layang. Ia belajar tentang bentuk, bahan, dan cara mengikat benang agar layang-layangnya bisa terbang stabil. Kadang ia mengantuk, tapi bayangan layang-layang raksasanya terbang tinggi di angkasa selalu memberinya semangat. Ia menabung uang hasil mengantar kue untuk membeli bambu, kertas, dan benang yang lebih bagus.
Suatu hari, ada perlombaan layang-layang di lapangan desa. Hadiahnya adalah seperangkat alat mewarnai yang sangat bagus. Riko sangat ingin ikut, tapi ia merasa sedikit malu. Apa kata teman-teman nanti kalau layang-layangnya tidak sebagus milik mereka?
"Tidak apa-apa!" kata Riko pada dirinya sendiri. "Malu itu tidak akan membuat layang-layangku terbang!"
Dengan semangat baru, Riko pun mulai membuat layang-layang impiannya. Ia menggambar naga besar berwarna-warni di kertasnya. Ia memotong bambu dengan hati-hati, mengikatnya kuat-kuat, dan menempelkan kertas naganya dengan teliti.
Hari perlombaan tiba. Riko datang ke lapangan dengan sepeda bututnya, membawa layang-layang naga raksasa yang ia buat. Doni dan Toni tertawa melihatnya.
"Wah, mau perang naga, Riko?" canda mereka.
Riko tidak menghiraukan. Ia hanya tersenyum dan fokus pada layang-layangnya. Ketika giliran Riko, ia menarik benangnya pelan-pelan. Angin bertiup kencang, dan layang-layang naga Riko melesat ke atas! Ia terbang lebih tinggi dan lebih gagah dari layang-layang lain. Semua orang di lapangan terkejut dan berdecak kagum. Doni dan Toni pun berhenti tertawa.
Layang-layang naga Riko menjadi pemenangnya! Riko sangat senang. Ia mendapatkan seperangkat alat mewarnai yang sudah lama ia impikan. Pak Kepala Desa menghampirinya.
"Hebat sekali layang-layangmu, Riko! Kamu tidak malu dengan sepedamu yang butut atau ejekan teman-temanmu. Kamu terus berusaha sampai impianmu tercapai," kata Pak Kepala Desa sambil mengusap kepala Riko.
Riko tersenyum bangga. Sejak hari itu, ia belajar satu pelajaran penting:
Tidak perlu malu dengan apa yang kita punya atau bagaimana kita terlihat. Yang penting, kita harus terus semangat dan tidak menyerah untuk mencapai apa yang kita impikan. Karena impian bisa dicapai oleh siapa saja yang mau berusaha.


Komentar
Posting Komentar